Pernahkah muncul dalam benak kita tentang sebuah pertanyaan "Apa hubungan antara pendidikan dengan kesehatan?". Bagi saya pribadi pernah dan terbilang cukup sering memikirkan hal tersebut, tentunya tidak hanya bertanya namun juga mencari jawaban. Jika saya harus menjawab, maka jawaban saya adalah YA, ada hubungan antara pendidikan dengan kesehatan.
Mari merenung sejenak, berita-berita di media massa baik elektronik maupun cetak, banyak sekali masalah kesehatan yang terjadi di negeri ini. Masalah-masalah itu meliputi gizi yang buruk, tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, tidak melakukan tindakan yang seharusnya terhadap masalah kesehatan, dan masih banyak lainnya. Jika kita bahas tentang gizi buruk, sebenarnya apa yang menjadi penyebab gizi buruk?
Pada umumnya status gizi dibagi menjadi 3 kategori, gizi normal (yang diharapkan), gizi kurang (yang sampai saat ini menjadi masalah kesehatan di Indonesia) dan gizi lebih (yang menjadi trend saat ini, mengalahkan gizi kurang). Yang menjadi masalah sudah jelas gizi kurang dan gizi lebih, karena kedua kategori ini tidak memenuhi syarat asupan gizi yang seharusnya. Sekali lagi muncul pertanyaan yang sama, sebenarnya apa yang menjadi penyebab gizi buruk (baik kurang ataupun lebih)? Jika saya harus menjawab detail, tentunya akan sulit bagi saya untuk menjawabnya, karena masalah kesehatan merupakan masalah kesehatan yang sangat kompleks, maka sesuai dengan judul postingan ini, saya hanya menjawab dari sisi pendidikan.
Kenapa pendidikan? bukannya berasal dari pendapatan? Pendapatan kan berasal dari pekerjaan? Mari merenung sejenak, mari kita melihat kondisi Ibu Kota Indonesia, Jakarta, banyak orang merantau dan mengadu nasibnya disini, karena "katanya" mudah mendapatkan pekerjaan, yang berarti mendapatkan penghasilan. Bagi saya, akar permasalahan ini adalah pendidikan. Mengapa pendidikan? Yuk lihat penjelasan berikutnya.
Bagaimana kita mendapatkan pekerjaan yang layak jika tingkat pendidikan rendah? Bagaimana bisa mendapatkan penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari jika pekerjaan saja tidak layak? Dari pertanyaan ini bagi saya sudah bisa menjelaskan beberapa akar masalah kesehatan yang ada di Indonesia, bahwa pendidikan yang tinggi berbanding lurus dengan tingkat penghasilan atau kemakmuran seseorang (tentunya tidak berlaku dengan semua orang, tapi sebagian besar orang yang berpendidikan tinggi sebanding dengan tingkat penghasilan atau kemakmurannya).
Terkadang muncul pertanyaan, meski tingkat pendidikan rendah, tapi kebutuhan keluarga terpenuhi dengan penghasilan saat ini, tetapi mengapa masalah kesehatan masih bermasalah? Sekali lagi, tingkat pendidikan yang tinggi akan berbanding lurus dengan tingkat kesehatan, karena pendidikan mempengaruhi dalam bagaimana kehidupan seseorang dalam keseharian.
Pernah ada seorang bayi mengalami gizi buruk, padahal tingkat penghasilan keluarganya berkecukupan. Setelah ditelusuri, ternyata sang Ibu sering memberikan mie instant kepada sang anak. Apa yang terjadi? Secara kuantitas, asupan terhadap sang bayi terpenuhi, tapi secara kualitas (karbohidrat, protein, mineral, vitamin dan zat lainnya) tidak terpenuhi, tidak seimbang, bahkan ada yang berlebihan.
Setelah melihat beberapa penjabaran singkat diatas, sebaiknya sistem pendidikan harus mengalami beberapa perombakan sistem. Wajib Sekolah 9 Tahun yang sampai saat ini menjadi primadona program kerja dari Kementerian Pendidikan Nasional, masih banyak memiliki lubang-lubang kekurangan. Anak jalanan lebih memilih mencari uang dibandingkan dengan mengenyam pendidikan. Sekolah-sekolah masih saja ada yang melakukan pungutan liar yang tidak masuk akal, sehingga memberatkan orang tua yang ingin sekali anaknya menjadi lebih baik dalam hal pendidikan.
Ingin sekali menjelaskan lebih banyak tentang masalah ini, namun diskusi itu lebih baik. Jika ada yang ingin berdiskusi, silakan memberi komentar. Postingan ini pula mungkin akan mengalami beberapa revisi untuk lebih baik lagi.
Terima Kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar